(0362) 21746
camatsawan50@gmail.com
Kecamatan Sawan

Sejarah Desa Kerobokan

Admin sawan | 21 Juni 2022 | 19 kali

Sejarah Desa Kerobokan 

Sejarah Desa Kerobokan hingga saat ini tidak ada bukti-bukti otentik yang mendukung fakta kesejahrahan menyangkut Desa Kerobokan, baik berupa babad, dokumen, prasasti maupun catatan-catatan sejarah lainnya. Menurut penuturan orang tua yang berkembang secara turun-temurun, sejarah Desa Kerobokan dapat dikemukakan sebagai berikut.

Kerobokan semula bernama Desa Pidanmasana, termasuk desa tua yang berlokasi disebelah selatan dari pada Desa Kerobokan yang ada sekarang, melintang dari arah utara ke selatan. Waktu itu desa Pidanmasana dipimpin oleh Dewa Bagus Manik Macuet sebagai pimpinan tertinggi dengan jumlah penduduk sebanyak 40 KK. Kepemimpinan Dewa Bagus sangat keras dan bengis dan sifat-sifat diktaktor/otoriter. Karena sifat-sifat kepeminpinannya ini, masyarakat merasa tertekan dan takut, serta menganggap pimpinan itu sebagai raja. Tetapi masa kepemimpinan Dewa Bagus tidaklah berlangsung lama, karena beliau keburu meninggal akibat suatu penyakit yang tak terobati, tanpa meninggalkan anak dan istri di Desa Pidan masana ini.

Konon sebelum meminpin Desa Pidanmasana Dewa Bagus Manik Macuat, berdomisili di Desa Pegamelan (Desa Penarukan sekarang). Di Desa Pegamelan, beliau kawin dengan anak perempuan Jero Bendesa dan mempunyai seorang anak laki-laki, yang karena kawin dengan seorang yang berkasta rendah, maka oleh masyarakat desa Pegamelan kastanya diturunkan menjadi Bagus. Akibat rasa tidak puas penurunan kasta tersebut, beliau pergi ke Desa Pidanmasana sendirian, yaitu desa yang berada disebelah timur desa Pegamelan. Di Desa Pidanmasana ini, Dewa Bagus Manik Macuet mungkin dianggap paling berwibawa dan lebih bijaksana, maka ditunjuk sebagai pemimpin desa.

Sepeninggal Dewa Bagus Manik Macuat dan akibat kekosongan kepeminpinan di desa, maka timbul huru-hara dan perpecahan diantara penduduk Desa Pidanmasana, yang mengakibatkan korban manusia, sehingga penduduk desa menjadi berkurang. Juga persatuan dan kesatuan suliut dibina, malahan mengarah kepada hal-hal yang lebih krusial. Untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak, maka timbul keinginan beberapa orang penduduk desa Pidanmasana, untuk pindah tempat tinggal, bergerak kearah utara, membuat pemukiman baru. Karena penduduk merasa lebih aman dan lebih damai tinggal diwilayah pemukiman yang baru, maka seluruh penduduk Pidanmasana ikut pindah ke sebelah utara, dan tempat pemukiman yang baru ini oleh semua penduduk diberi nama Kerobokan.

Adapun pemberian nama Kerobokan ini, disebabkan karena timbulnya desa baru ini adalah akibat dari petikaian, perpecahan atau perkelahian antar penduduk yang berdampak pada kehancuran itu sendiri ( bahasa bali “ saling kerobok” ). Pada waktu itu wilayah Kerobokan mencakup wilayah Banjar Dalem dan Banjar Bale Agung (belum termasuk wilayah Banjar Kloncing) dan Desa yang baru ini, pertama kalinya dipimpin oleh Kaki Mukiadi sebagai kelian desa adat, sedangkan secara administrative pemerintahan dilakukan oleh sorang Manca yang berkedudukan di desa Penarukan.

Penggabungan Keperbekelan Kerobokan dengan Keperbekelan Kloncing yang sebelumnya berdiri sendiri sebagai satu Keperbekelan, menjadi Desa Kerobokan dilakukan tahun 1969, dengan maksud memenuhi persyaratan administrastif pembentukan sebuah desa dinas. Dengan bergabungnya Perbekelan Kloncing, maka wilayah Desa Kerobokan menjadi 3 (tiga) banjar, yaitu Banjar Dalem, Banjar Baleagung dan Banjar Kloncing, walapun secara adat banjar Kloncing masih tetap berdiri sendiri sebagai satu kesatuan desa adat. Dengan demikian, Desa Kerobokan mewilayahi 2 (dua) desa adat, yaitu Desa Pakraman Kerobokan dan Desa Pakraman Kloncing.

 

Tradisi Nyekar di Sawan Kabupaten Buleleng

 

Hampir semua kabupaten di Bali memiliki tradisi unik. Salah satunya adalah Kabupaten Buleleng. Buleleng  kaya dengan tradisi dan ritual keagamaan yang unik dan tidak dimiliki daerah lain. Tiga desa pakraman di Kecamatan Sawan yakni Desa Pakraman Kerobokan, Desa Pakraman Kloncing, dan Desa Pakraman Sinabun rutin menggelar tradisi “nyekar”. Ritual merupakan warisan leluhur yang wajib dijalankan oleh krama desa pakraman dengan makemit di tepi Pantai Kerobokan. 

Tradisi sebagai rangkaian dari upacara pakelem yang dilaksanakan tengah laut lepas. Bukan hanya dilakukan oleh prajuru desa pakraman atau perwakilan dari kepala keluarga, tetapi dilakukan oleh bersama-sama anggota keluarga. Bukan sekedar mengikuti ritual persembahyangan, tetapi upacara adat dan agama juga sekaligus digunakan sebagai acara rekreasi bersama-sama keluarga. Masyarakat yang datang bukan hanya membawa sesajen sebagai persembahan tetapi juga membawa bekal untuk dimakan bersama-sama di pantai. Upacara pakelem biasanya berlangsung sekitar pukul 03.00 wita atau sebelum matahari terbit. Seluruh sarana upakara ini diletakkan di atas pelepah pisang yang sudah dirangka sedemikain rupa. Sejumlah sarana upakara yang lazim disebut sekah dihanyutkan ke tengah laut.

Menurut Pemangku di Desa Pakraman Kerobokan Jro Mangku Made Sudirtha meceritakan, nyekar merupakan wujud rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi karena upacara yang digelar di wewidangan desa pakraman berlangsung baik. Krama mempercayai ritual ini sebagai permakluman atas kesalahan-kesalahan selama melaksanakan upacara. Setelah ritual ini mulai kesokan harinya menjadi titik awal untuk menjalani kehidupan di desa pakraman. Menurut Sudirtha juga, prosesi upacara nyekar berlangsung secara turun temurun. Meksipun zaman telah berkembang, masyarakat sangat antusias mengikuti prosesi upacara nyekar hingga tuntas. Namun akibat perkembangan zaman juga mempengaruhi jalan prosesi. Sebelum berkembang alat transportasi yang begitu pesat, warga desa pakraman biasanya berjalan kaki menuju Pantai Kerobokan. 

 

Dirikan Tenda di Pantai, Berdoa Agar Gunung Agung Tak Meletus

 

SUARA riuh dan kesibukan terdengar saat ratusan warga Desa Kerobokan dari anak-anak hingga orang dewasa ini sibuk mendirikan tenda di Pantai Kerobokan.

Ada yang membawa tenda siap pasang, ada pula yang membangun tenda menggunakan terpal dan bambu sebagai penyangga. Sekilas seolah mau bangun tenda pengungsian, tapi bukan.

Dalam sekejap, tenda-tenda itu pun berdiri tegak. Sedangkan para pengurus desa terlihat sibuk menyiapkan upacara keagamaan.

 

 

“Sesuai dengan tradisi adat istiadat Desa Pakraman Kerobokan, setiap tahun diadakan upacara nyekar dan pakelem di sini,” terang Jro Bendesa Adat Pakraman Kerobokan Wayan Suma Wijaya, kemarin.

Upacara yang diikuti oleh seluruh warga Kerobokan dengan jumlah 635 KK ini, bertujuan untuk memohon kepada Ida Bhatara Baruna (penguasa lautan) agar diberikan kekuatan.

“Terlebih dalam kondisi sekarang, Gunung Agung dalam kondisi yang kurang baik,” ungkapnya. Uniknya, ritual nyekar dan pakelem ini ada aturannya tersendiri.

Jro Suma memaparkan, rangkaian upacara diawali dengan sembahyang di Pura Segara pukul 21.00. Kemudian bersembahyang di lokasi tempat dibangunnya tenda.

Setelah itu dilakukan Puja Tri Sandya dan panca sembah oleh seluruh warga. Setelah melakukan persembahyangan tersebut, warga beristirahat sambil dipertontonkan pertunjukan seni, seperti gong gebyar.

Usai beristirahat, pukul 04.30 pagi, upacara agama sesuai tradisi kembali dilakukan. Upacara dimulai dengan menyucikan benda-benda sakral yang ada.

Setelah itu mengaturkan banten pakelem yang dihanyutkan ke laut dengan menggunakan pedau (perahu kecil untuk sesajen) dan terakhir dilakukan persembahyangan bersama kembali di Pantai Kerobokan.

“Ini rangkaian upacara terakhir dalam satu tahun di sini. Kan ada 14 upacara dalam satu tahun itu, dari pujawali di pura desa hingga melasti. Nah, upacara ini sebagai permakluman atas kesalahan-kesalahan selama melaksanakan 14 upacara sebelumnya tersebut,” terangnya

Lalu, tenda yang dibangun oleh warga ini untuk apa? “Ya, ini untuk mekemit di sini (Pantai Kerobokan). Seluruh warga tidak boleh pulang. Kalau pun pulang mesti dengan alasan emergency. Ini sudah jadi tradisi dari tahun ke tahun di sini,” terangnya.

Sore kemarin sembari menikmati sunset di pantai, para warga pun terlihat begitu antusias membangun tenda.

Sementara para perempuan dan anak-anak sibuk membawa bekal makanan untuk mekemit di malam harinya.

Ada juga yang mengajak seluruh keluarganya yang sebelumnya bekerja di luar buleleng, seperti di Denpasar dan sebagainya.

Terkait kondisi Gunung Agung, Jro Suma menerangkan upacara kali ini akan sedikit berbeda dengan upacara sebelumnya.

Di mana, dalam persembahyangan panca sembah oleh seluruh warga, ditambahkan satu cakupan tangan lagi dengan doa agar Gunung Agung tidak meletus.

 

Berita Terpopuler
03 Januari 2022 175 kali
Apel Pagi
07 Januari 2022 121 kali
Senam Pagi
10 Januari 2022 109 kali
Apel Kerja virtual
07 Januari 2022 108 kali
Futsal Tim Kantor Camat sawan