(0362) 21746
camatsawan50@gmail.com
Kecamatan Sawan

Sejarah Desa Jagaraga

Admin sawan | 21 Juni 2022 | 16 kali

DESA JAGARAGA

Jagaraga adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, Indonesia. Desa ini memiliki rata-rata ketinggian 125 meter dari permukaan laut. Pada tahun 1848, di tempat ini terjadi perang puputan melawan bangsa Belanda di bawah pimpinan Pangeran Anak Agung Jelantik

Sejarah Desa JagaragaMenurut Drs. Jero Mangku I Nyoman Kanca selaku KetuaPHDI desa Jagaraga, beliau menuturkan: pada mulanya Desa Jagargaadalah wilayah kekuasaan Ki Pasek Menyali yang wilayahnya dariLemukih sampai Bungkulan. Pada saat itu Ki Pasek Menyali berdian diDesa Bungkulan dan mempunyai seorang anak perempuan bernama NiLuh Pasek yang amat menawan hati , kemudian datanglah kesatria dariBangli mampir di rumah Ki Pasek Menyali. Lama waktunya untuk berkenalan kemudian timbul rasa cintanya ksatrya kepada Ni LuhPasek untuk dijadikan istri. Ksartya tersebut lanjut melaksanakan perkawinan karena janjinya akan menetap disana tanpa sepengetahuankeluarganya di Bangli, Akhirnya Ni Luh Pasek diberikan warisan disebelah utara yang sekarang disebut Subak Pungakan. MengingatKsatrya tersebut kawin tanpa ijin keluarga maka derajatnya(kewangsannya) diturunkan menjadi Pungakan., Mengingat PasekMenyali ini hanya memiliki seorang putri saja kemudian wilayahBungkulan diserahkan kepada menantunya. Ki Pasek Menyali berkeingiinan melaksanakan perjalanan spiritual kearah selatan dan berdomosili di Desa Menyali . Dilihat dari bukti sejarah bekas peninggalan Ki Pasek Menyali adalah Pura Subak Bungkulan yangsekarang dijadikan Pura Desa Bungkulan, Pura Puseh dan PuraSanghyang Celeng berada di sebelah timur Pura Dalem Jagaraga,PuraMas tempat Ki Pasek mengadakan Tapa berada di Sebelah selatanDesa Jagaraga

Tabanan, Karangasem di bawah pimpinan patih I Gusti Ketut Jelantik yang jabatannyasebagai Mahapatih di kerajan Bulleng. Dari desa Suka Pura ini I Gusti Ketut Jelantik dibantuoleh I Gusti Nyoman Jelanttik membuat kebulatan tekad akan mempertahankan Buleleng dari

 penjajahan Belanda di sebuah Pura Dalem dengan istilah “Sagara Madu”.

 Sehingga sampaisekarang terkenal Pura dalem Jagaraga menjadi Pura Dalem Sagara MaduMengingat nama dua kesatria sama maka I Gusti Nyoman Jelantik memakai namaGelar I Gusti Lanang Sura yang artinya berani berperang dalam pertempuran melawan musuhdemi mmenegakkan kesatrian membela Negara. Gelar beliau adalah sebuah kain putih paican

Bhatara Dalem yang disebut “Gngsir”

, sehingga gelar I Gusti Nyoman Jelantih diebut

“Jelantik Gingsir” yang fungsinya mampu menyelamatkan diri bila prajurit ditutupi gingsir

tersebut. Kemudian masyarakat Desa Beji sering memberi isyarat ke Suka Pura untuk selaluwaspada menjaga diri mengingat Belanda akan mengadakan pertempuran,kemudian timbul bisikan jagaraga dan lama kelamaan desa Suka Pura berubah nama menjadi desa jagaraga.Pada tanggal 8 Juni 1848 Belanda melancarkan serangan terhadap benteng Jagaragadengan melancarkan tembakan-tembakan meriam dari atas kapal maupun dari pantai sangsit,di dalam penyerangan Belanda yang pertama ini banyak di pihak pasukan Belanda yanggugur. Karena pihak Belanda belum mengetahui siasat perang laskar Bali pada saat itu.Laskar Jagaraga melalui perbentengan sebelah timur (supit urang kanan) dapat memukul pasukan Belanda sehingga terputus, dengan demikian daerah Bungkulan dapat di kuasai olehlaskar Jagaraga. Di dalam peperangan babak pertama ini pasukan Belanda dapat terpukulmundur dengan meninggalkan banyak korban.Pada tanggal 15 April 1849 di bawah pimpinan Mayor Jendral Michiels dan LenanKolonel de Brauw mendarat di pantai Sangsit dan langsung mengadakan serangan.Berdasarkan pengalaman pada masa yang lalu, kali ini penyerangan Belanda di lakukan dari

 

 

dua arah yaitu dari depan dan dari belakang, semuanya berada di luar perbentengan supiturang. Akhirnya Belanda berhasil mengurung benteng Jagaraga dengan demikian LaskarJagaraga terasa terjepit. Walaupun dengan segala keberanian rakyat Jagaraga berperangmelawan tentara Belanda, karena pasukan Belanda kali ini sangat banyak dengan persenjataan yang sangat modern. Patih Jelantik berusaha untuk mundur untuk mencari bala bantuan ke Karangasem dan pertempuran dilanjutkan oleh istrinya Jero Jempiring dibantuoleh I Gusti Lanang Sura (Nyoman Jelatik), dengan gigih tetap maju dalam peperangan,dengan menghunus dua bilah keris satu di tangan kiri dan satu di tangan kanan, JeroJempiring berteriak-teriak memanggil Laskar Bali yang terdesak mundur; dengan seruan

“Orang

 laki-laki akan hilang kelaki-lakianya apabila mundur dari medan pertempuran

. Apagunanya membuat pura yang dipuja setiap hari, apabila sekarang dibiarkan Belandamencemarkanya. Ucapan yang tajam keras dan tegas serta di ucapkan pada saat yang tepat inimemberikan akibat psykhologis yang mempersonakan pada semangat laskar Bali yangmundur tersebut. Lanang Sura juga memeberi semangat ksatrian dengan slogan

“Ksatrya matidalam perang akan menuju sorga”sambil menghunus keris Langlang Tanda paican Bhatara

Kawitannya dari Pura Gunung Sekar.Tiba-tiba pasukan disekitar Jro Jempiring yang dengan jelas dapat mendengar teriakannya itu berbalik ke depan dan diikuti oleh kawan-kawan seperjuangannya yang lain gelombang demigelombang, mereka mengamuk karena terbakar oleh emosi dan telah kehilangan rasatakutnya dan akhirnya Jero Jempiring dan I Gusti Lanang Sura gugur dalam peperangan .Beberapa orang yang sempat mengundurkan diri bersama-sama Patih Jelantik menuju daerahKarangasem dengan maksud mencari bantuan, ternyata dalam perjalanan itu tiba-tibaterbunuh.

 

Dalam peperangan babak ke dua ini akhirnya benteng Jagaraga jatuh ke tanganBelanda pada tanggal 19 April 1849 dengan memakan korban yang cukup besar pada ke dua belah pihak.

Sejarah Pura Dalem Segara Madu

Pura Dalem Jagaraga sudah ada sejak masa kepemimpinan I Gusti Nyoman Jelantiksebagai inteljen raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem pada abad ke-17 saatterjadinya Perang Jagaraga beliau menunjuk salah satu patihnya yang bernama I Gusti KetutJelantik untuk membangun sebuah benteng yang kokoh dengan sistim pertahanannya yangsangat kuat yang di sebut dengan dengan pertahanan Supit Urang yang bertempat di sebelahutara Pura Dalem desa Jagaraga, dengan maksud perwujudan sistem pertahanan "Skala-niskala" religius-spiritual.Dan posisi benteng Jagaraga rletak di sebelah utara Pura Dalem Jagaragat dianggapsebagai lini terdepan dalam kawasan kekuasaan / sakti Dewa Siwa sebagai manifestasiTuhan yang melambangkan pralina bagi musuh atau Belanda yang berani menyerbu desa ini.Kata Segara Madu mengandung arti sebagai tempat kebulatan tekad, segara yangartinya gelombang-gelombang energy kekuatan para prajurit dalam melakukan peperangan,dan Madu artinya gabungan kekuatan prajurit Bali berkumpul di Jagaraga. Antara lain prajurit kerajaan Badung, Karangasem, Klungkung, Jembrana, Gianyar dan Buleleng dalammenghadapi Belanda yang bermarkas di Desa Jagaraga.

Disinilah laskar Bali di bawah pimpinan IGusti Ketut Jelantik dan istrinya Jero Jempiring bersumpah untuk mempertankan benteng Jagaragadari serangan pasukan Belanda. Dan untuk mengenang dari perang puputan jagaraga dan semangat juang dari laskar-laskar Bali dalam mempertahankan benteng sekaligus kesucian Pura dari pasukanBelanda, maka Pura Dalem Desa Jagaraga berinama

 

PURA DALEM JAGARAGA 

Pura Dalem Jagaraga disebut juga Pura Dalem Segara Madhu merupakan sebuah pura yang terletak di Desa JagaragaKecamatan SawanBuleleng, sekitar 11 km sebelah timur Kota Singaraja, di pinggir jalan jurusan Singaraja-Sawan. Desa ini terkenal dengan “Puputan Jagaraga” perang melawan Belanda pada tahun 1849 dibawah komando I Gusti Ketut Jelantik

Lingkungan Pura Dalem ini memiliki keunikan tersendiri yaitu relief mobil kuno yang dikendarai oleh orang yang bersenjata, relief pesawat jatuh, relief orang Belanda minum bir dan lain-lain. Juga patung “Men Brayut” cerita rakyat Bali tentang seorang ibu dengan anak banyak yang masih kecil bergayutan minta digentong semua. Pura ini tak bisa ditemukan di lain tempat di Bali.

 

Ukiran[]

Pura Dalem

Pura Dalem Jagaraga ialah salah satu pura yang penuh dengan daya tarik bagi wisatawan yang mengunjunginya. Pura ini merupakan salah satu dari lingkungan Pura Kahyangan Tiga Jagaraga yang secara umumnya memiliki ciri-ciri yang sama dengan Pura Dalem lainnya di Bali seperti lokasinya yang dekat dengan kuburan, memiliki hiasan-hiasan patung yang berwajah seram dan menakutkan yang diantaranya patung Batari Durga yang terkenal.

Pura Dalem Jagaraga (Pura Dalem Segara Madu) dikenal karena ornamennya yang tidak biasa. Ukir-ukiran pura ini menceritakan kehidupan masyarakat Bali sebelum dan setelah kedatangan bangsa Belanda. Di relief pura ini terlihat juga antara lain pesawat terbang yang jatuh ke laut, kapal laut yang diserang monster laut dan mobil dengan pengendaranya yang mungkin menceritakan kehidupan bangsa Belanda pada zaman itu. Selain itu dapat ditemui juga ukir-ukiran yang menggambarkan mitologi Bali, seperti Rangda yang merupakan penyihir jahat dalam mitologi Bali

 

Monumen Jagaraga sebagai sebuah perlambang peringatan akan perang 'Puputan' Jagaraga pada 1849 lalu dengan tokohnya yang terkenal yakni I Gusti Ketut Jelantik dan Jero Jempiring," kata Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana ketika melakukan peletakan batu pertama di lokasi pembangunan monumen, Senin (1/8).

Ia mengatakan, Monumen Jagaraga berdiri di atas areal kurang lebih setengah hektar dengan tinggi 15 meter menghadap ke utara. Nantinya dibangun patung besar dua tokoh Perang Jagaraga tersebut. Pahlawan pertama yakni Patung Patih Gusti Ketut Jelantik dan Jero Jempiring sebagai tokoh yang punya peran penting dalam perang Puputan Jagaraga di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan pada tahun 1849," paparnya.

Agus menambahkan, pembangunan monumen dilaksanakan PT Tunas Jaya Sanur dilaksanakan selama 180 hari dengan rincian anggaran mencapai sekitar Rp 13,8 miliar.

Ketua DPC PDIP itu menambahkan, pembangunan monumen merupakan salah satu bentuk komitmen kuat Pemkab Buleleng untuk menanamkan nilai kepahlawanan dan perjuangan dalam diri masyarakat. "Selain sebagai lambang pertempuran yang dipimpin oleh Patih I Gusti Ketut Jelantik, monumen Perang Jagaraga ini juga diperuntukan sebagai sarana pembelajaran pengenalan sejarah," ungkapnya

Dikatakan pula, monumen juga untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam peperangan melawan penjajah. "Kami juga berharap pembangunan monumen itu bisa menginspirasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas diri," ungkapnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terpopuler
03 Januari 2022 175 kali
Apel Pagi
07 Januari 2022 122 kali
Senam Pagi
10 Januari 2022 109 kali
Apel Kerja virtual
07 Januari 2022 108 kali
Futsal Tim Kantor Camat sawan